Friday 28 January 2022
Home      All news      Contact us      RSS      English
voaindonesia - 14 days ago

Peraturan Masker Diperketat di Eropa di Tengah Gelombang COVID-19  

Mengenakan masker atau tidak merupakan pertanyaan yang segera dijawab pada awal wabah COVID-19 di Italia. Sekarang ini, negara yang pernah menjadi pusat pandemi COVID-19 di Eropa itu berharap peraturan ketat mengenai penggunaan masker dapat membantu Italia mengatasi gelombang infeksi terbaru di sana.   Negara-negara lain mengambil tindakan serupa sementara varian omicron yang jauh lebih mudah menular, meskipun tampaknya tidak begitu ganas, menyebar ke berbagai penjuru benua itu.   Dengan ruang-ruang perawatan intensif di rumah sakit Italia yang cepat dipenuhi pasien yang sebagian besar tidak divaksinasi COVID-19, pemerintah mengumumkan pada malam Natal bahwa masker  FFP2 yang memberikan proteksi lebih besar daripada masker kain atau masker bedah bagi penggunanya, harus digunakan di dalam transportasi umum, termasuk pesawat, kereta api, feri dan kereta bawah tanah.   Keputusan ini diambil meskipun semua penumpang di Italia, mulai pekan ini, harus divaksinasi atau baru pulih dari COVID-19. FFP2 juga sekarang harus dikenakan di teater, bioskop dan kegiatan olah raga, di dalam atau di luar ruangan, dan tidak boleh dibuka bahkan ketika penggunanya akan makan atau minum.   Italia memberlakukan kembali kewajiban menggunakan masker di luar ruang. Negara itu belum pernah mencabut kewajiban mengenakan masker di dalam ruangan, bahkan ketika infeksi turun tajam pada musim panas lalu. Pada pagi yang dingin di Roma pekan ini, Lillo D’Amico, 84, terlihat mengenakan topi wol dan masker putih FFP2 sewaktu ia membeli surat kabar di kios dekat rumahnya.   “Masker biayanya kecil, membuat Anda melakukan pengorbanan kecil,” ujarnya. “Kalau Anda hitung, biayanya jauh lebih sedikit daripada dirawat inap.”   Sewaktu ia melihat seseorang dari kelompok sebagian kecil orang yang tidak mengenakan masker berlalu, ia mengambil jarak. “Mereka menganggap masker sebagai penghinaan terhadap kebebasan mereka,” kata D’Amico sambil mengangkat bahu.   Spanyol memberlakukan kembali peraturan mengenakan masker di luar ruang pada malam Natal. Setelah tingkat penularan 14 hari membubung menjadi 2.722 infeksi baru per 100 ribu orang pada akhir pekan lalu, dari 40 per 100 ribu orang pada pertengahan Oktober, PM Pedro Sanchez ditanya apakah mandat masker di luar ruang membantu.   “Tentu saja. Bukan saya yang mengatakannya. Sains sendirilah yang menunjukkannya karena virus ditularkan sewaktu seseorang mengembuskan nafas,” kata Sanchez.   Portugal juga mewajibkan kembali penggunaan masker pada akhir November, setelah hampir sebagian besar membatalkan kewajiban itu sewaktu Portugal mencapai sasarannya memvaksinasi 86 persen populasinya.   Yunani juga memulihkan mandat masker di luar ruang, sambil mewajibkan penggunaan masker bedah dobel atau FFP2 di transportasi umum dan di dalam ruang-ruang di tempat umum.   Pekan ini tim penanggulangan wabah pemerintah Belanda merekomendasikan mandat masker bagi orang-orang berusia 13 tahun ke atas di berbagai tempat umum di dalam ruangan yang sibuk seperti di restoran, museum dan teater, dan bagi para penonton di berbagai kegiatan olah raga di dalam ruang. Tempat-tempat itu sekarang ini ditutup berdasarkan ketentuan lockdown yang berlaku hingga setidaknya hari Jumat 14 Januari.   Di Prancis, kewajiban mengenakan masker di luar ruang diberlakukan kembali sebagian pada Desember lalu di banyak kota, termasuk Paris. Usia anak-anak untuk mulai mengenakan masker di tempat umum diturunkan dari 11 menjadi 6 tahun.   Kanselir Austria Karl Nehammer mengumumkan pekan lalu bahwa warga harus mengenakan masker FFP2 di luar ruangan jika mereka tidak dapat menjaga jarak sedikitnya 2 meter.   Di Italia, dengan lebih dari 2 juta orang yang sekarang ini dikukuhkan positif terjangkit virus di negara berpenduduk 60 juta orang dan absennya pegawai di tempat kerja membatasi operasi kereta dan bus, pemerintah juga menganggap masker sebagai cara untuk membuat masyarakat lebih penuh berfungsi.   Orang yang telah mendapat suntikan booster atau dosis kedua baru-baru ini sekarang dapat menghindari karantina setelah terpapar seseorang yang terinfeksi, jika mereka mengenai masker FFP2 selama 10 hari.  Pemerintah telah memerintahkan toko-toko untuk menyediakan masker FFP dengan harga 85 sen (sekitar Rp12.000). Pada tahun pertama pandemi, harga FFP2 melonjak hingga 11,5 dolar (Rp164 ribu lebih) – kalau pun masker itu ada.   Warga Italia mengenai masker dengan beragam warna. Ayah seorang bayi yang dibaptis oleh Paus Fransiskus pekan ini di Kapel Sistine mengenai masker berwarna merah anggur, dengan dasi dan sapu tangan di saku jas yang berwarna serasi. Tapi Paus, yang praktis tidak mengenakan masker di depan umum, kembali terlihat tidak mengenakan masker.   Hari Senin (10/1), Vatikan mewajibkan penggunaan masker FFP2 di seluruh tempat di dalam ruang. Negara independen mini di jantung kota Roma ini juga menetapkan bahwa para pegawai Vatikan dapat pergi bekerja tanpa dikarantina setelah terpapar orang yang dites positif COVID jika, selain sudah divaksinasi penuh atau mendapatkan suntikan booster, mereka mengenakan FFP2.   Paus Fransiskus kemudian tampak mengenakan FFP2 sewaktu ia keluar dari sebuah toko musik di dekat Pantheon sebelum berkendara kembali ke Vatikan. Penampilannya itu mengejutkan orang-orang yang berbelanja di Roma pada Selasa pagi.   Di Inggris, di mana PM Boris Johnson memusatkan perhatiannya pada vaksinasi, penggunaan masker di luar ruang tidak pernah diwajibkan.   Namun bulan ini, pemerintah menyatakan pelajar sekolah menengah harus mengenakan masker di kelas. Menteri Pendidikan Nadhim Zahawi mengatakan peraturan itu tidak akan berlaku  “seharipun lebih lama daripada yang diperlukan.”   Sewaktu pemerintah Inggris mencabut restriksi terkait pandemi pada Juli 2021, mengubah penggunaan masker dari kewajiban menjadi saran, penggunaan masker berkurang tajam.   Nino Cartabellotta, presiden yayasan GIMBE yang berbasis di Bologna, yang memantau layanan kesehatan di Italia, mengatakan, Inggris menunjukkan apa yang dapat terjadi sewaktu peraturan mengenai penggunaan masker tidak dihargai.   “Situasi di Inggris menunjukkan bahwa vaksinasi saja tidak cukup” untuk mengatasi pandemi, meskipun Inggris adalah salah satu dari negara-negara pertama yang memulai vaksinasi, kata Cartabellotta dalam wawancara video. [uh/ab] 


Berita Terkini
Hashtags:   

Peraturan

 | 

Masker

 | 

Diperketat

 | 

Eropa

 | 

Tengah

 | 

Gelombang

 | 

COVID

 | 

sumber