Tuesday 11 May 2021
Home      All news      Contact us      RSS      English
voaindonesia - 22 days ago

Tuan Rumah KTT Hari Bumi, Biden Bertekad Atur Ulang Perubahan Iklim

Kamis (22/4) adalah Hari Bumi, dan Presiden Joe Biden telah mengundang 40 pemimpin dunia ke pertemuan virtual tentang perubahan iklim. Amerika Serikat berada dalam posisi penting secara internasional setelah pemerintahan Trump menarik diri dari perjanjian iklim PBB di Paris. Para pendukung mengharapkan Biden untuk membalikkan keadaan, walaupun langkah itu tidak akan mudah. “Kita akan bergabung kembali dengan kesepakatan iklim Paris mulai hari ini,” demikian pernyataan Biden pada hari pertamanya menjabat. Presiden Joe Biden ingin untuk menunjukkan bahwa perubahan iklim akan menjadi agenda teratas pemerintahannya. KTT Hari Bumi dengan tuan rumah Presiden Biden bermaksud untuk menunjukkan kepada para pemimpin dunia bahwa banyak hal telah berubah dari pengabaian pemerintahan Trump terhadap masalah tersebut. David Waskow adalah pakar kebijakan iklim dari World Resources Institute, sebuah lembaga nirlaba di Washington, D.C., yang peduli dengan isu-isu lingkungan dan perubahan iklim. “Ini adalah kesempatan bagi Amerika untuk kembali ke panggung dunia dan menunjukkan bahwa Amerika menanggapi perubahan iklim dengan serius.” Taruhannya semakin meningkat karena konsekuensi perubahan iklim semakin nyata, dengan lebih banyak kebakaran hutan, kekeringan yang lebih parah, dan badai yang lebih kuat. Perjanjian iklim Paris PBB tahun 2015 bertujuan untuk menghentikan pemanasan global. Tetapi para ahli mengatakan tujuan yang ditetapkan di Paris semakin menjauh, seperti diungkapkan oleh Rachel Cleetus, direktur kebijakan iklim di Union of Concerned Scientists atau “Serikat Ilmuwan Peduli.” “Kita berada dalam risiko besar saat ini. Kita melihat suhu terus naik. Kita melihat emisi terus naik, berlawanan arah dari yang seharusnya, dan itulah mengapa begitu banyak yang menyebut dekade ini sebagai dekade untuk berbudat sesuatu,” ujar Rachel. Emisi global terus meningkat selama beberapa dekade. Kebijakan saat ini akan terus berlanjut, sehingga menambah masalah. Namun David Waskow mengatakan emisi harus turun hampir setengahnya pada tahun 2030 agar kita berada pada jalur untuk menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim. “Jika Anda tidak mulai mengubah kurva itu sekarang, sasaran yang harus dicapai setelah 2030 akan sangat sulit dicapai,” katanya. Para pendukung meminta Biden untuk mengumumkan pengurangan 50 persen emisi di Amerika selambatnya pada tahun 2030. Gedung Putih mengatakan akan mengumumkan targetnya menjelang KTT Kamis ini. Biden melihat peluang dalam memerangi perubahan iklim seperti membangun gardu-gardu tenaga surya dan angin serta stasiun-stasiun pengisian kendaraan listrik – pekerjaan yang tidak dapat dikirim ke luar negeri. Rencana itu merupakan landasan dari rencana infrastruktur senilai $ 2,3 triliun. “Rencana Penciptaan Lapangan Pekerjaan Amerika akan mengarah pada kemajuan transformasional untuk mengatasi perubahan iklim dengan menciptakan lapangan pekerjaan dan menggunakan kecerdasan Amerika,” ujar Biden. Namun, Kongres masih harus mengesahkan rencana itu, dan Partai Republik sangat menentangnya, seperti disampaikan oleh Senator John Thune dari South Dakota. “Ini adalah ekspansi besar-besaran dari pemerintah yang dibiayai oleh para pembayar pajak Amerika, dengan pajak yang akan merugikan ekonomi dan membuat kita kehilangan pekerjaan.” Sementara itu, perhatian kini tertuju pada pencemar utama lainnya, termasuk Tiongkok, sebagai pencemar terbesar di dunia, diikuti India. Kedua negara itu diharapkan untuk mengumumkan rencana iklim masing-masing menjelang konferensi besar PBB di Glasgow pada bulan November mendatang. [lt/jm]


Berita Terkini
Hashtags:   

Rumah

 | 

Biden

 | 

Bertekad

 | 

Ulang

 | 

Perubahan

 | 

Iklim

 | 

sumber