Wednesday 19 December 2018
Home      All news      Contact us      English
hariansib - 1 month ago

Cara Baru Menambah Jumlah Petani


lt;div gt;Indonesia merupakan negara agraris. Sebab mayoritas daerahnya merupakan kawasan pertanian. Sayangnya, hal itu tak diimbangi dengan tingkat produktivitas. Masalahnya, regenerasi petani tidak berjalan dengan baik, jumlahnya makin turun dari tahun ke tahun. lt;/div gt; lt;div gt; lt;br gt; lt;/div gt; lt;div gt;Patut dipahami, meski menuai kontroversi, Indonesia masih harus mengimpor berbagai produk pertanian. Harusnya negeri ini yang mengekspor ke negara lain. Bisa saja di masa depan, pangan Indonesia dipasok dari luar. lt;/div gt; lt;div gt; lt;br gt; lt;/div gt; lt;div gt;Kementerian Pertanian berupaya menerapkan berbagai strategi untuk meningkatkan minat pemuda dan sarjana mendukung pembangunan sektor pertanian. Strategi awal adalah mengubah stigma tentang pertanian bukan hanya budi daya tanaman padi di sawah. Masih ada yang lain, yakni pengembangan sektor agribisnis dari subsistem hulu sampai hilir yang membuka peluang kerja dan peluang usaha. lt;/div gt; lt;div gt; lt;br gt; lt;/div gt; lt;div gt;Kajian Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), menunjukkan 70 persen petani padi dan 73 persen petani hortikultura yang menjalani profesinya sebagai petani bukan merupakan pekerjaan yang diinginkan sejak awal. Survey menyebutkan 70 persen anak petani padi dan 60 persen anak petani hortikultura tidak pernah bercita-cita menjadi petani seperti orang tua mereka. Potret suram pertanian menyebabkan anak muda desa enggan menjadi petani. lt;/div gt; lt;div gt; lt;br gt; lt;/div gt; lt;div gt;Perlambatan regenerasi petani juga banyak terjadi di negara ASEAN, termasuk Indonesia sebagai negara agraris. Jika kondisi ini dibiarkan, maka secara jangka panjang akan menyulitkan sektor pertanian dalam negeri untuk berkembang, baik secara kualitas maupun kuantitas. Tak mustahil berubah menjadi negara pengimpor hasil pertanian. lt;/div gt; lt;div gt; lt;br gt; lt;/div gt; lt;div gt;Bisa dipahami mengapa sektor pertanian makin tak menarik bagi angkatan kerja. Urbanisasi tak terbendung, sekalipun tidak ada jaminan kehidupan yang lebih baik di perkotaan. Mereka terpaksa menjadi buruh industri, atau malah terdampar ke sektor informal karena tak ada pekerjaan. lt;/div gt; lt;div gt; lt;br gt; lt;/div gt; lt;div gt;Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP) menjadi program andalan Kemtan dalam rangka regenerasi petani. Ke depan, generasi muda pertanian bukanlah pekerja bidang pertanian, tetapi menjadi pelaku usaha pertanian. Pemuda dan sarjana pertanian dibuat mampu menjadi job creator atau pencipta lapangan kerja di sektor pertanian khususnya subsektor agribisnis. lt;/div gt; lt;div gt; lt;br gt; lt;/div gt; lt;div gt;Dirancang program melalui pelatihan, program magang, kegiatan pembinaan, dan bimbingan. Tujuannya agar calon petani mengetahui kemudahan dalam menciptakan dan merintis usaha yang menguntungkan. Mereka pun terdorong untuk menjadi wirausahawan muda pertanian (agrosociopreneur) yang mampu menggerakkan dan menciptakan lapangan kerja di sektor pertanian. lt;/div gt; lt;div gt; lt;br gt; lt;/div gt; lt;div gt;Diharapkan pertanian Indonesia bisa diselamatkan dengan membuatnya menarik bagi kaum muda. Ini perlu keseriusan dari semua pihak. Pelibatan perguruan tinggi sudah tepat, dengan demikian ada berbagai pemikiran bakal muncul untuk menarik minat calon petani. lt;b gt;(**) lt;/b gt; lt;/div gt;

Related news

Berita Terkini
Hashtags:   

Menambah

 | 

Jumlah

 | 

Petani

 | 
Paling Popular (6 jam)

Paling Popular (24 jam)

Paling Popular (satu minggu)

sumber