Thursday 13 December 2018
Home      All news      Contact us      English
voaindonesia - 26 days ago

China dan Amerika Saling Kecam di KTT APEC

Pemimpin China Xi Jinping dan Wakil Presiden Amerika Mike Pence hari Sabtu (17/11) saling kecam dalam pidato di hadapan para pemimpin dunia yang mengikuti KTT APEC di Port Moresby, Papua New Guinea, ketika kedua pemimpin menguraikan visi kepemimpinan global masing-masing. Pence mengatakan kebijakan Presiden Donald Trump untuk melawan kebijakan perdagangan China yang senantiasa memaksimalkan ekspor dan pencurian kekayaan intelektual tidak akan surut.  Perang dagang Amerika-China tercermin dalam pernyataan kedua pemimpin. Amerika telah memberlakukan tarif tambahan sebesar 250 miliar dolar terhadap barang-barang China, dan China telah mengambil tindakan balasan serupa. Pence menggarisbawahi ancaman pemerintah Trump untuk melipatgandakan pinalti tersebut. “Amerika tidak akan mengubah arah hingga China mengubah cara-caranya,” ujar Pence, yang menuduh China mencuri kekayaan intelektual, memberikan subsidi yang belum pernah terjadi sebelumnya kepada BUMN dan hambatan yang “luar biasa” pada perusahaan-perusahaan asing yang ingin memasuki pasar China.  Pence mengumumkan bahwa Amerika akan terlibat dengan rencana sekutunya, Australia, untuk mengembangkan pangkalan angkatan laut di Papua New Guinea dimana KTT itu berlangsung. China sebelumnya telah secara intensif membujuk Papua New Guinea dan negara-negara kepulauan lain di Pasifik dengan bantuan dan pinjaman bagi pembangunan infrastruktur.  Pence mengecam keras program infrastruktur global China yang dikenal sebagai “Belt and Road Initiative,” dengan menyebut hal itu sebagai proyek berkualitas rendah yang melumpuhkan negara-negara berkembang yang tidak mampu membayar pinjaman mereka. Amerika, sebagai negara demokratis, adalah mitra yang lebih baik dibanding China yang otoriter, tegas Pence. Xi Jinping yang berbicara sebelum Pence, sudah mengantisipasi kecaman Amerika itu dalam pidatonya. Xi mengaakan negara-negara kini menghadapi pilihan untuk bekerjasama atau berkonfrontasi seiring meluasnya proteksionisme dan unilateralisme. Xi menunjukkan dukungan pada sistem perdagangan dunia yang bebas, yang telah mendorong pertumbuhan ekonomi negaranya dalam seperempat abad terakhir menjadi negara dengan tingkat perekonomian terbesar kedua di dunia, setelah Amerika.  “Aturan-aturan yang dibuat seharusnya tidak diikuti atau dilanggar ketika dinilai cocok, dan seharusnya tidak diterapkan dengan standar ganda demi agenda-agenda yang egois,” tegas Xi.  “Sekali lagi kita tiba di persimpangan jalan. Arah mana yang akan kita pilih? Kerjasama atau konfrontasi? Kebijakan pintu terbuka atau tertutup? Kemajuan satu sama lain atau kemajuan satu pihak semata?’’ tanya Xi.  Pemimpin 21 negara yang ada di Relung Pasifik dan menyumbang 60 persen ekonomi dunia kini berada di Port Moresby, Papua New Guinea, untuk mengikuti pertemuan tahunan Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik, atau dikenal sebagai KTT APEC. Mereka berupaya mencapai perjanjian, yang secara khusus mendorong perubahan dalam Organisasi Perdagangan Dunia WTO, badan yang menetapkan aturan perdagangan dan berhak memberikan pinalti kepada negara yang melanggar. [em]

Related news

Berita Terkini
Hashtags:   

China

 | 

Amerika

 | 

Saling

 | 

Kecam

 | 
Paling Popular (6 jam)

Paling Popular (24 jam)

Paling Popular (satu minggu)

sumber