Friday 16 November 2018
Home      All news      Contact us      English
pikiran-rakyat - 8 days ago

Bank Indonesia Prediksi Inflasi 2018 di Kisaran 3,2%

EKONOMI Wawancara/TIA KOMALASARI/PR GUBERNUR Bank Indonesia, Perry Warjiyo, memberikan keterangan pada wartawan di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Jumat 9 November 2019. JAKARTA, (PR).- Bank Indonesia memprediksi inflasi hingga akhir tahun 2018 berada di kisaran 3,2 % (year on year). Proyeksi inflasi tersebut berada di bawah titik tengah target inflasi yang ditargetkan pemerintah sebesar 3,5 ± 1 %. Berdasarkan survei pemantauan harga minggu pertama November 2018, inflasi masih cukup rendah yaitu sebesar 0,16 % dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara inflasi sejak Januari-minggu pertana November 2018 (year to date) mencapai 2,39%. Sejumlah komoditas penymbang inflasi antara lain komoditas bawang merah, beras, bensin, dan emas perhiasan‎. Sementara deflasi didorong oleh harga daging ayam ras, juga sayur-sayuran. Inflasi yang cukup rendah di tahun ini juga mendorong kami memproyeksikan inflasi yang lebih rendah dari proyeksi sebelumnya pada 2019, ujar dia. Menanggapi tahun politik di 2019, menurut Perry hal itu justru lebih mempengaruhi pert‎umbuhan ekonomi. Sebab momen pemilu menambah konsumsi lembaga non profit di dalam komposisi produk domestik bruto. Sebelumnya, BI sudah memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi 2018 berada di kisaran 5,1-5,4%. Nilai Tukar Sementara itu nilai tukar Rupiah juga terus menguat dalam seminggu terakhir.‎ Menurut Perry, hal itu dipengaruhi faktor dalam negeri dan luar negeri. Dari faktor dalam negeri, penguatan nilai tukar rupiah‎ dipengaruhi oleh meningkatnya kepercayaan pelaku pasar terhadap kebijakan yang ditempuh BI dan pemerintah. Hal itu termasuk dengan beroperasinya Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) sejak minggu lalu.  Berdasarkan pemantauan kami, DNDF itu berkembang dengan baik. Supply demandnya cukup berkembang sehingga ini menambah kedalaman pasar dalam negeri, ujar dia. Perry mengatakan, volume DNDF hingga saat ini telah mencapai 115 juta Dolar AS. Supply and demandnya juga sangat seimbang dan membaik, yang kita lihat ini memang mekanisme pasar, ujar dia. Sementara faktor luar negeri dipengaruhi oleh meredanya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Selain itu membaiknya ekonomi Tiongkok juga mendorong penguatan Rupiah. Bank Indonesia juga mencatat aliran modal asing yang masuk mellaui Surat Berharga Negara telah mencapai Rp 14,4 triliun pada November 2018. Dengan demikian, aliran modal asing yang masuk melalui SBN dari Januari-awal November 2018 mencapai Rp 42,6 triliun. Tidak hanya itu, aliran modal juga mulai masuk melalui saham sebesar Rp 5,5 triliun. Meskipun bila diakumulasi sejak awal tahun nilainya masih negatif disebabkan banyaknya aliran modal keluar pada awal 2018. Itu juga memberikan kepercayaan dari investor global terhadap Indonesia, ujar dia.*** Tags: Bank IndonesiainflasiekonomiOleh: Tia Dwitiani Komalasari

Related news

Berita Terkini
Hashtags:   

Indonesia

 | 

Prediksi

 | 

Inflasi

 | 

Kisaran

 | 
Paling Popular (6 jam)

Paling Popular (24 jam)

Paling Popular (satu minggu)

sumber