Monday 19 November 2018
Home      All news      Contact us      English
voaindonesia - 11 days ago

Kecantikan dan Spiritual, Dua Dunia Biksu Nishimura

Dengan memakai sepatu hak tinggi, Kodo Mishimura, seorang make-up artist di Tokyo, berjalan memasuki sebuah ruangan. Sekilas, penampilannya tak mirip seorang biksu Buddha. Rias wajah yang rapi, dengan menggunakan riasan mata ala smoky eyes, bulu mata palsu, dan eyeliner membentuk sayap, dia berganti kostum sebanyak tiga kali selama presentasi untuk memenuhin keinginan para penggemarnya. Kesehariannya berubah total saat dia berada di sebuah kuil di Tokyo, tempat ayahnya yang menjabat kepala biksu. Mukanya polos tanpa riasan dan dia mengenakan jubah polos seorang biksu. Hal ini mungkin tampak seperti pekerjaan ganda, namun hal itu tidak menjadi masalah bagi Nishimura yang berusia 29 tahun. “Ini lah saya,” katanya seperti yang dikutip dari AFP “Saya tidak akan mencoba menjadi orang lain.” Profesi utama Nishimura adalah seorang make-up artis, yang mendandani kliennya dari kalangan beragam. Mulai dari bintang pop hingga para kontestan kecantikan. Sebagian besar waktunya dalam setahun dia habiskan di Amerika Serikat. Di Negeri Paman Sam itu pula untuk pertama kalinya dia bisa secara terbuka melakukan kegemarannya dengan dunia make-up, suatu hal yang tidak bisa dia lakukan di Jepang. Saat dia kanak-kanak, dia harus sembunyi-sembunyi di kamar mandi untuk bereksperimen dengan berbagai make-up. “Saya akan membukan kotak rias mata merek Chanel milik ibu saya dan saya akan mencobanya. Tapi saat itu, saya tampak seperti orang gila, seperti badut,” dia tertawa. Belajar di AS, Nishimura menemukan banyak hal yang berbeda. Dia bertemu waria yang bekerja di toko alat rias kecantikan dan dengan senang hati menjawab pertanyan Nishimura. Pada usia 18 tahun, dia membeli make-up pertamanya: maskara dan eyeliner. Keputusannya magang dengan salah satu make-up artis menuntunnya mendapatkan pekerjaan. Ketika kembali ke Jepang, secara mengejutkan, orang tuanya mendukung pilihan kariernya. Pembebasan Namun dia merasa ada sesuatu yang hilang. Nishimura dibesarkan di sebuah kuil Buddha, bermain di belakang altar emas dengan hiasan rumit. Dia tahu suatu hari nanti dia akan memutuskan untuk ikut jejak ayahnya. Jadi, saat menginjak usia 24 tahun, dia mendaftarkan diri dalam program pelatihan agama Buddha di Pure Land. Pelatihan ini melibatkan 5 sesi, masing-masing memakan waktu beberapa minggu, dan tersebar selama sekitar 2 tahun. Dia mengaku bahwa profesinya sebagai make-up artist, mungkin bertentangan dengan agama yang mengutamakan ketenangan batin. “Saya pikir dalam ajaran Buddha, pesan intinya adalah merasakan kebahagiaan, merasa seimbang dalam hati dan berbagi kebahagiaan,” katanya. Merasa cantik, dia percaya, membuat orang “lebih dermawan, dan perhatian untuk membantu orang lain.” Nishimura kembali ke Jepang dua kali setahun, membantu ayahnya pada acara keagamaan seperti pemakaman. Untuk saat ini dia dapat menyeimbangkan dua kehidupan tersebut. Tapi pada akhirnya dia harus memutuskan apakah akan mewarisi kuil ayahnya, yang diakuinya tidak menarik saat ini. Dia juga mencjadi seorang memberikan advokasi hak-hak LGBT, dan di sela waktu mengajari perempuan transgender bebrapa trik make-up untuk menampilkan kesan lebih feminin. [vp/ft]  

Related news

Berita Terkini
Hashtags:   

Kecantikan

 | 

Spiritual

 | 

Dunia

 | 

Biksu

 | 

Nishimura

 | 
Paling Popular (6 jam)

Paling Popular (24 jam)

Paling Popular (satu minggu)

sumber